Selasa, 14 Januari 2014

Story # 2 : Kemampuan Menahan Diri di Saat Peluang Besar : Kasus Malabar dan Elna Cake



restoran malabar di kota padang




Toko Kue Elna di kota Bukittinggi


Kemampuan menahan diri : Malabar dan Elna Cake

Tetap teguh dan bertahan di masa sulit, dan menahan diri di masa senang. Itulah tulisan yang akan kita tulis pada malam ini. Mudah2an bisa memberikan sesuatu kepada teman-teman.

Malam ini saya membaca sebuah buku karya Jim Collin dan Morten Hansens yang berjudul “Great by Choice”, dan pada salah satu halaman, tepatnya pada halaman 52, saya menemukan sebuah kalimat yang menarik yaitu :

“perjalanan 20 mil menimbulkan dua jenis ketidaknyamanan pada diri sendiri yaitu :
a. ketidaknyamanan berupa komitmen tak tergoyahkan pada kinerja unggul dalam masa sulit
b. ketidaknyamanan berupa menahan diri dalam kondisi yang baik”

 Yang akan saya bahas cenderung ke point b, dari perkataan si Collins dan Hansens. Yaitu tentang menahan diri di dalam kondisi yang baik.

Mungkin contoh pertama yang menarik adalah Southwest Airlines, sebuah maskapai di AS. Terkenal sebagai maskapai yang tidak pernah rugi semenjak berdiri.

Nah apa kunci sukses dari Southwest Airlines, salah satunya adalah MENAHAN DIRI UNTUK MAJU DI SAAT SENANG.

Sedikit kisah Southwest Airlines (SA)

Southwest Airlines berdiri sekitar tahun 1973, di awal berdirinya SA hanya beroperasi dari dan ke kota texas saja. Mereka hanya fokus satu kota saja. Karena kualitas yang bagus dan saat itu sekitar tahun 1980 an dan 1990, keadaan ekonomi bagus, maka investasi pada penerbangan cukup massif.

Sehingga banyak maskapai lainnya, menambah layanan di berbagai kota. Mereka menambah unit pesawat untuk bisa mendapatkan keuntungan lebih besar. Tetapi itu tidak berlaku pada SA. SA menolak berkembang di saat bagus.

Saat itu sekitar tahun 1998 ada sekitar 100 permintaan layanan baru dari berbagai kota diminta kepada SA. Tetapi apa yang dilakukan SA, dari 100 permintaan tersebut SA hanya membuka 4 layanan saja. 96 layanan lain, tidak diindahkan SA.

Apakah saat itu SA tidak meraup untung sebanyak maskapai lainnya, benar sekali tentu tidak, karena SA tidak berinvestasi. Saat itu sekitar tahun 1998 SA hanya mengambil sedikit untung karena hanya membuka 4 layanan terbang baru.

Namun apa yang terjadi 10 tahun kemudian, sekitar tahun 2005 semua maskapai jatuh dan hancur. Sedangkan SA semakin berjaya dan laba tahunannya terus meningkat.

Kenapa ini terjadi karena SA “Menahan diri terlalu berinvestasi besar di saat kondisi ekonomi bagus”, alasan SA berekspansi bukan karena sedang banyak permintaan, atau ekonomi bagus. Alasan SA berekspansi karena mereka menilai kapasitas diri dan kemampuan diri sendiri.

SA tidak mau terburu-buru menjadi perusahaan besar karena mereka yakin, untuk menjadi besar itu butuh proses dan pembelajaran. Karena itu mereka bersabar untuk belajar sedikit demi sedikit untuk menjadi besar. Mereka bersabar untuk sukses.

Sehingga Setiap investasi dilakukan dengan cermat dan bijaksana.

Malabar versus Elna Cake

Malabar ada di Padang, Elna Cake ada di Bukittinggi. Kasus ini tidak membandingkan Malabar dan Elna Cake dari segi produk, tetapi dari segi cara berekspansi.

Ada hal menarik yang saya lihat dari Restoran Malabar, sebuah restoran malam yang ada di kota padang yang menjual berbagai makanan seperti martabak mesir, roti cane, martabak Malabar, dll.

Saya pertama kali makan di Malabar tahun 2004 sampai dengan sekarang tahun 2013. Ada satu hal yang membuat saya heran. Kenapa dengan pelanggan sebanyak itu Restoran Malabar tidak mau membuka cabang. Sampai saat ini Restoran Malabar hanya ada satu yaitu di Jalan M.H Thamrin Padang.

Selama berpuluh-puluh tahun membuka usaha restoran tersebut, pasti pemilik mempunyai banyak untung, lantas kenapa mereka tidak mau membuka cabang sampai saat ini?

Saya hanya berasumsi, bahwasanya alasan pemilik tidak membuka cabang, karena ingin tetap menjaga kualitas, atau bisa jadi untuk menjaga ke”otentik”an, bahwasanya hanya ada satu restoran Malabar di atas dunia ini, hanya di MH Thamrin padang.

Sang pemilik menahan diri membuka cabang, demi menjaga kualitas dan ke-“orisinalitas”an.

Coba sekarang kita banding kan, dengan salah satu toko kue terkenal di bukittinggi. Toko kue itu bernama Elna. Toko kue ini memang sangat terkenal dan ramai. Toko pertama nya berada di Jln. Hamka Gurun Panjang. Toko pertama ini sangat besar dan mewah sekali. Saya sendiri sangat takjub dengan berbagai jenis kue yang menarik yang ada disini.

Ditambah dengan pelayanan yang hebat dari sang pemilik. Membuat toko kue ini semakin menarik untuk dikunjungi, apalagi jika kita ingin membeli kue untuk teman yang berulang tahun.

Yang membuat saya heran adalah alasan Elna, membuka cabang kedua yang berada di Jl. St Syahrir Jembes. Lokasi toko kedua ini tak jauh jaraknya dari toko pertama, mgkn sekitar 2 km, Dan toko kedua ini, tak se-spesial toko yang pertama.

Kenapa Elna, terburu-buru untuk ber-ekspansi dan membuka satu lagi cabang baru yang sama-sama ada di kota bukittinggi dan jaraknya berdekatan. Apakah membuka toko kedua adalah sebuah investasi yang menguntungkan?

Saya juga tidak tahu, hanya sang pemilik yang mengetahui rumusnya.

Namun menurut saya , pembukaan toko kedua Elna yang berada di Jl. St Syahrir Jembes di kota bukittinggi. Saya rasa terlalu tergesa-gesa. Saya rasa dengan satu toko pertama yang mewah yang ada di Jl. Hamka Gurun Panjang, itu sudah cukup. Toh semua pelanggan rela berkendara kesana.

Mengutip perkataan Jim Collins tersebut saya bertanya juga,
  • Apakah pembukaan toko kedua Elna ini adalah sebuah hal yang tergesa-gesa?
  • Apakah pembukaan toko kedua ini bisa menyebabkan turunnya penjualan di toko pertama?
  • Apakah pemilik bisa mempertahankan kualitas karena sudah mempunyai dua toko?
  • Apakah cost-benefit analisis untuk toko kedua itu sudah bagus?

Untuk menjawab pertanyaan diatas hanya pemilik lah yang tahu kebenarannya.

Tetapi setahu saya, ekspansi yang terlalu cepat bisa merugikan perusahaan, jika tidak diperhitungkan dengan baik dan seksama.

Merugikan bukan karena tidak bisa menjual produk dengan baik, merugikan karena manajemen belum siap mengatur sebuah perusahaan yang lebih besar, harus di evaluasi kemampuan manajemen internalnya lebih dahulu.

Intinya sukses atau gagalnya sebuah bisnis, biasanya sangat dipengaruhi oleh kemampuan “manajemen” dalam mengelola perusahaan.

Jika perusahaan semakin bertambah cabangnya atau ukurannya, sedangkan sistem manajemennya tidak di-upgrade atau ditingkatkan kemampuannya, maka perusahaan tersebut lambat laun bisa jatuh dan menurun kualitasnya.

Semoga bermanfaat.

 referensi :
Jim Collins dan Morten Hansen. 2012. Great by Choice. Gramedia Pustaka Utama.

Jumat, 10 April 2009

Story # 1 : The Behavioral Finance (The Theory of Alternative Finance) 1 : The Concept

The Behavioral Finance (The Theory of Alternative Finance) Part 1 : The Concept



Behavioral Finance (The Theory of Alternative Finance) atau lebih sering kita sebut “Prilaku Keuangan” adalah salah satu ilmu yang semakin berkembang belakangan ini. Ilmu ini adalah salah satu ilmu terpenting saat ini yang dipelajari oleh banyak orang.

Ilmu ini tidak lagi fokus mempelajari konsep atau teori keuangan, atau mempelajari trend keuangan yang terjadi di masa lampau. Tetapi fokus ilmu ini adalah mempelajari karakter dari manusia-manusia sebagai pembuat keputusan keuangan yang akan memberikan dampak keuangan di masa depan. Ilmu ini menjadi sangat penting karena perannya yang sangat dinamis.

Ilmu ini mempelajari sisi psikologis dan sisi sosial dari setiap individu yang akan membuat keputusan yang terkait dengan keuangan. Contoh sederhana saja, ketika presiden Barack Obama terpilih menjadi presiden, maka sebagian pengusaha akan terkecewakan, karena presiden ini pasti akan mengenakan pajak yang lebih tinggi daripada yang biasanya.

Dari mana para pengusaha atau ekonomis mengetahui bahwasanya Barack Obama akan menaikkan pajak, karena mereka memahami sifat-sifat psikologis dari Barack Obama yang punya kepedulian tinggi terhadap masyarakat bawah, sehingga menaikkan pajak untuk orang kaya dan menyalurkannya kepada orang miskin.

Tetapi kali ini kita fokus dahulu kepada teorinya, nanti pada tulisan lain kita akan lihat contoh praktek dan implikasinya di lapangan.

Aspek yang mempengaruhi dalam Prilaku Keuangan

Secara teoritis, Behavioral Finance atau Prilaku Keuangan dipengaruhi oleh tiga aspek seperti yang terlihat dari bagan dibawah :



 1. Psychology Aspect
Prilaku keuangan seseorang dipengaruhi oleh hal-hal seperti karakter individu tersebut, pengalaman pribadi yang didapat selama ini apakah itu pengalaman baik atau buruk, dan hal-hal yang pengaruhnya datang dari dalam internal pribadi pengambil keputusan.
2. Sociology Aspect
Prilaku keuangan seseorang dipengaruhi oleh berbagai hal yang terjadi pada orang lain atau kelompok-kelompok yang ada di sekitar pengambil keputusan. Prilaku keuangan bisa juga dipengaruhi oleh pengalaman orang lain atau kejadian yang terjadi pada orang lain yang ikut serta mempengaruhi bagaimana cara seseorang dalam mengambil keputusan keuangannya.
3. Finance Aspect
Prilaku keuangan seseorang dipengaruhi oleh sejauh mana pemahaman keuangan yang dimiliki oleh pengambil keputusan, pengetahuan ini termasuk pengetahuan secara teori dan juga secara praktek di lapangan.

Ketiga hal tersebut berkolaborasi dalam mempengaruhi bagaimana seseorang dalam mengambil keputusan keuangannya. Dengan memahami ketiga aspek tersebut, kita bisa dengan lebih baik mengambil keputusan keuangan pribadi, atau memahami dengan baik bagaimana seseorang disekitar kita mengambil berbagai keputusan keuangan yang unik dan menarik.

Teori yang mempengaruhi The Behavioral Finance

Setalah memahami aspek apa saja hal yang mempengaruhi keputusan keuangan tersebut. Selanjutnya kita akan memahami empat teori yang penting yang akan memandu kita untuk memahami proses pengambilan keputusan keuangan seorang pengambil keputusan.



 1. The Theory of Overconfidence

Teori Overconfidence atau Kepercayaan diri yang berlebihan adalah hal yang sangat wajar menurut ilmu psikologis. Teori bisa terjadi kepada setiap orang. Pada teori ini setiap orang berpotensi untuk menilai lebih tinggi skill yang mereka miliki. Di satu sisi yang lain setiap orang juga bisa menilai prediksi mereka tentang kesuksesan terlalu berlebihan.

Kita ambil sebuah contoh , seorang pengusaha membeli sebuah ruko di daerah aur kuning bukittinggi seharga 1 milyar. Dengan harga tersebut sang pengusaha yakin dapat menyewakan toko minimal dengan harga Rp 75 juta pertahun.

Namun keadaan berubah, perekonomian pun menjadi tidak menentu, perputaran bisnis menurun. Setelah dibuka pengumuman kontrak, tidak ada satu orang pun tertarik untuk menyewa dengan harga Rp 75 juta. Adapun yang ingin menyewa hanya dengan biaya Rp 45 juta pertahun.

Pada kasus ini sang pengusaha akan rugi karena terlalu percaya diri dengan keadaan yang terjadi di masa depan. Pada investasi ini, sang pengusaha merasa rugi, karena tingkat pengembalian investasi sebesar 1 milyar tidak sesuai dengan keinginan.

2. The Financial Cognitive Dissonance

Teori ini menjelaskan seseorang akan mengalami kecemasan dan tekanan ketika mereka melakukan pengambilan keputusan keuangan yang tidak sesuai dengan kepercayaan yang mereka yakini.

Ini umumnya terjadi ketika seseorang mencoba untuk keluar dari “style”lamanya dalam melakukan keputusan keuangan.

Misalnya seorang pengambilan keputusan mempunyai uang sebesar 1 milyar. Dahulunya sang pengambilan keputusan menginvestasikan uang 1 milyar tersebut dengan mendepositokannya. Dari uang 1 milyar tersebut dia akan mendapatkan bunga atau keuntungan pasti sekitar Rp 60 juta rupiah pertahunnya.

Lalu dia mencoba mengubah gaya atau style, dengan membuka usaha. Dengan uang sebesar 1 milyar, dia mulai membuka usaha, dari usaha tersebut akan mempunya peluang keuntungan sebesar Rp 300 juta (5 kali lipat dari opsi pertama), tetapi di sisi lainnya juga mempunya potensi kerugian sebesar Rp 200 juta.

Karena pengetahuan sang pengambil keputusan tentang berusaha masih kurang, maka di tahun pertama usaha ini mengalami kerugian sebesar Rp 150 juta. Hal ini menciptakan kecemasan dan tekanan tinggi kepada diri pribadi pengambil keputusan.

Hal tersebut akan mempengaruhi keputusan keuangan masa depan seseorang, jika mereka adalah orang yang kuat dan berani mengambil resiko, maka mereka akan meningkatkan usaha dan kemampuan mereka. Tetapi ada juga yang kembali ke cara investasi lama yang lebih aman.

3. The Theory of Regret

Theory of regret atau teori penyesalan ini adalah ketika seorang pengambil keputusan menyesali keputusan keuangannya di masa lalu, dimana di masa depan dia telah mengevaluasi keputusan yang diambil di masa lalu.

Biasanya teori ini terjadi, ketika di masa lalu sang pengambil keputusan dihadapkan untuk memilih beberapa keputusan dari beberapa alternative yang ada, ternyata sang pengambil keputusan salah dalam mengambil keputusan sehingga keputusan tersebut merugikan.

Contoh, misalnya di tahun 2000 seorang pengusaha mempunyai uang sebesar 1 milyar. Di saat itu dia ingin berinvestasi dengan membeli tanah. Saat itu harga tanah sekitar Rp 1 juta permeter. Sang pengusaha mempunyai opsi, apakah dia akan membeli tanah di daerah jambu air (lokasi A) atau dia akan membeli tanah di daerah taluak (lokasi B). Kedua lokasi sama-sama strategis.

Akhirnya sang pengusaha memilih lokasi A (jambu air), karena di tahun 2000 an saat itu daerah jambu air lebih ramai dan punya prospek lebih bagus. Ternyata di tahun 2010 an, pemerintah kota bukittinggi melakukan pengembangan besar-besaran di daerah taluak (lokasi B). Sehingga untuk tahun 2010, harga tanah di daerah taluak sekitar Rp 8 juta permeter, sedangkan di daerah jambu air hanya sekitar Rp 4 juta permeter.

Pada kasus ini sang pengusaha menyesal, seandainya saja dia membeli tanah di daerah taluak (lokasi B) tentunya dia akan mendapatkan keuntungan dua kali lebih banyak daripada investasi yang dilakukannya di daerah jambu air (lokasi A).

Pada investasi saat itu, sang pengusaha mengambil kesimpulan. Sebelum membeli tanah, dia harus bertanya dahulu ke pemerintah kota, tentang pengembangan wilayah dan jalan. Karena hal tersebut mempengaruhi harga tanah untuk jangka panjang.

Penyesalan terjadi karena kurangnya analisis yang dilakukan oleh pengusaha atau pengambil keputusan keuangan, hal ini akan mempengaruhi gaya pengambilan keputusannya di masa depan.

4. The Theory of Prospect

The Theory of Prospect atau teori prospek adalah menjelaskan bahwasanya tidak semua orang mengambil keputusan secara rasional. Pada teori dijelaskan bahwasanya setiap orang secara psikologis bisa saja mengambil sebuah keputusan yang mempunyai tingkat ketidakpastian yang tinggi di masa depan. Orang yang mengambil pilihan ini lebih suka dengan apa yang kita sebut tingkat “probabilitas”, orang yang suka menerka dan memprediksi masa depan.

Misalnya ada seorang pengusaha mempunyai uang Rp 1 milyar. Dia mempunyai dua opsi investasi. Opsi pertama, dia membeli tanah seharga Rp 1 milyar, dimana tahun depan dia bisa menjual tanah itu seharga Rp 1,5 milyar. Keuntungan ini sudah pasti dan sudah benar adanya, karena data yang diperkirakan sangat akurat.

Selain itu sang pengusaha juga punya Opsi kedua, dimana dia membuka sebuah usaha dengan modal Rp 1 milyar. Usaha ini mempunyai potensi 80% untuk untung sebesar Rp 750 juta, tetapi juga punya potensi 20% untuk rugi sebesar Rp 500 juta.

Dibanding mengambil opsi pertama untuk untung Rp 500 juta yang sudah pasti, sang pengusaha lebih suka bermain dengan ketidakpastian untuk mengambil untung Rp 750 juta walau itu tidak pasti.

Dari teori ini, kesimpulannya adalah tidak semua orang suka berpikir logis dan bertindak aman dalam sebuah pengambilan keputusan keuangan.

Kesimpulan

Setiap keputusan keuangan yang akan diambil oleh seseorang sangat dipengaruhi oleh aspek psikologis, aspek sosial, dan aspek finance.

The Theory of Overconfidence menjelaskan penyesalan seseorang oleh keputusan investasi di masa lalu yang terlalu optimis dan ternyata meleset di masa depan.

The Financial Cognitive Dissonance menjelaskan bahwasanya setiap orang akan mengalami guncangan, atau kecemasan, atau ketertekanan ketika mereka mulai mengubah karakter atau style dalam pengambilan keputusan keuangan mereka.

The Theory of Regret menjelaskan penyesalan seseorang karena salah mengambil sebuah alternative keputusan keuangan dari beberapa opsi yang lain. Dimana opsi yang lain ternyata memberikan keuntungan yang besar di masa depan.

The Theory of Prospect menjelaskan tidak semua orang berpikir aman dan rasional ketika mengambil sebuah keputusan keuangan. Ada beberapa orang yang lebih suka ketidakpastian yang ada di masa depan.

Pengaruh seseorang dalam mengambil keputusan keuangan di masa depan, sangat dipengaruhi oleh empat teori ini. Kejadian di masa lalu yang terkait keempat teori ini akan mempengaruhi tentang cara bagaimana seseorang dalam berpikir dan bertindak dan mempengaruhi cara berprilaku keuangan mereka.

Semoga bermanfaat.

referensi :
Ricciardi, Victor ; Simon, Helen. 2000. What is Behavioral Finance. Golden Gate University, San Fransisco.
Barberis, Nicholas ; Thaler, Richard. 2002. Survey of Behavioral Finance. Handbook of Economic Finance
wikipedia. Behavioral Finance. 2013.


Links

Feeds

Text-Ads