restoran malabar di kota padang
Toko Kue Elna di kota Bukittinggi
Kemampuan menahan diri : Malabar dan Elna Cake
Tetap teguh dan bertahan di masa sulit, dan menahan diri di masa senang. Itulah tulisan yang akan kita tulis pada malam ini. Mudah2an bisa memberikan sesuatu kepada teman-teman.
Malam ini saya membaca sebuah buku karya Jim Collin dan Morten Hansens yang berjudul “Great by Choice”, dan pada salah satu halaman, tepatnya pada halaman 52, saya menemukan sebuah kalimat yang menarik yaitu :
“perjalanan 20 mil menimbulkan dua jenis ketidaknyamanan pada diri sendiri yaitu :
a. ketidaknyamanan berupa komitmen tak tergoyahkan pada kinerja unggul dalam masa sulit
b. ketidaknyamanan berupa menahan diri dalam kondisi yang baik”
Yang akan saya bahas cenderung ke point b, dari perkataan si Collins dan Hansens. Yaitu tentang menahan diri di dalam kondisi yang baik.
Mungkin contoh pertama yang menarik adalah Southwest Airlines, sebuah maskapai di AS. Terkenal sebagai maskapai yang tidak pernah rugi semenjak berdiri.
Nah apa kunci sukses dari Southwest Airlines, salah satunya adalah MENAHAN DIRI UNTUK MAJU DI SAAT SENANG.
Sedikit kisah Southwest Airlines (SA)
Southwest Airlines berdiri sekitar tahun 1973, di awal berdirinya SA hanya beroperasi dari dan ke kota texas saja. Mereka hanya fokus satu kota saja. Karena kualitas yang bagus dan saat itu sekitar tahun 1980 an dan 1990, keadaan ekonomi bagus, maka investasi pada penerbangan cukup massif.
Sehingga banyak maskapai lainnya, menambah layanan di berbagai kota. Mereka menambah unit pesawat untuk bisa mendapatkan keuntungan lebih besar. Tetapi itu tidak berlaku pada SA. SA menolak berkembang di saat bagus.
Saat itu sekitar tahun 1998 ada sekitar 100 permintaan layanan baru dari berbagai kota diminta kepada SA. Tetapi apa yang dilakukan SA, dari 100 permintaan tersebut SA hanya membuka 4 layanan saja. 96 layanan lain, tidak diindahkan SA.
Apakah saat itu SA tidak meraup untung sebanyak maskapai lainnya, benar sekali tentu tidak, karena SA tidak berinvestasi. Saat itu sekitar tahun 1998 SA hanya mengambil sedikit untung karena hanya membuka 4 layanan terbang baru.
Namun apa yang terjadi 10 tahun kemudian, sekitar tahun 2005 semua maskapai jatuh dan hancur. Sedangkan SA semakin berjaya dan laba tahunannya terus meningkat.
Kenapa ini terjadi karena SA “Menahan diri terlalu berinvestasi besar di saat kondisi ekonomi bagus”, alasan SA berekspansi bukan karena sedang banyak permintaan, atau ekonomi bagus. Alasan SA berekspansi karena mereka menilai kapasitas diri dan kemampuan diri sendiri.
SA tidak mau terburu-buru menjadi perusahaan besar karena mereka yakin, untuk menjadi besar itu butuh proses dan pembelajaran. Karena itu mereka bersabar untuk belajar sedikit demi sedikit untuk menjadi besar. Mereka bersabar untuk sukses.
Sehingga Setiap investasi dilakukan dengan cermat dan bijaksana.
Malabar versus Elna Cake
Malabar ada di Padang, Elna Cake ada di Bukittinggi. Kasus ini tidak membandingkan Malabar dan Elna Cake dari segi produk, tetapi dari segi cara berekspansi.
Ada hal menarik yang saya lihat dari Restoran Malabar, sebuah restoran malam yang ada di kota padang yang menjual berbagai makanan seperti martabak mesir, roti cane, martabak Malabar, dll.
Saya pertama kali makan di Malabar tahun 2004 sampai dengan sekarang tahun 2013. Ada satu hal yang membuat saya heran. Kenapa dengan pelanggan sebanyak itu Restoran Malabar tidak mau membuka cabang. Sampai saat ini Restoran Malabar hanya ada satu yaitu di Jalan M.H Thamrin Padang.
Selama berpuluh-puluh tahun membuka usaha restoran tersebut, pasti pemilik mempunyai banyak untung, lantas kenapa mereka tidak mau membuka cabang sampai saat ini?
Saya hanya berasumsi, bahwasanya alasan pemilik tidak membuka cabang, karena ingin tetap menjaga kualitas, atau bisa jadi untuk menjaga ke”otentik”an, bahwasanya hanya ada satu restoran Malabar di atas dunia ini, hanya di MH Thamrin padang.
Sang pemilik menahan diri membuka cabang, demi menjaga kualitas dan ke-“orisinalitas”an.
Coba sekarang kita banding kan, dengan salah satu toko kue terkenal di bukittinggi. Toko kue itu bernama Elna. Toko kue ini memang sangat terkenal dan ramai. Toko pertama nya berada di Jln. Hamka Gurun Panjang. Toko pertama ini sangat besar dan mewah sekali. Saya sendiri sangat takjub dengan berbagai jenis kue yang menarik yang ada disini.
Ditambah dengan pelayanan yang hebat dari sang pemilik. Membuat toko kue ini semakin menarik untuk dikunjungi, apalagi jika kita ingin membeli kue untuk teman yang berulang tahun.
Yang membuat saya heran adalah alasan Elna, membuka cabang kedua yang berada di Jl. St Syahrir Jembes. Lokasi toko kedua ini tak jauh jaraknya dari toko pertama, mgkn sekitar 2 km, Dan toko kedua ini, tak se-spesial toko yang pertama.
Kenapa Elna, terburu-buru untuk ber-ekspansi dan membuka satu lagi cabang baru yang sama-sama ada di kota bukittinggi dan jaraknya berdekatan. Apakah membuka toko kedua adalah sebuah investasi yang menguntungkan?
Saya juga tidak tahu, hanya sang pemilik yang mengetahui rumusnya.
Namun menurut saya , pembukaan toko kedua Elna yang berada di Jl. St Syahrir Jembes di kota bukittinggi. Saya rasa terlalu tergesa-gesa. Saya rasa dengan satu toko pertama yang mewah yang ada di Jl. Hamka Gurun Panjang, itu sudah cukup. Toh semua pelanggan rela berkendara kesana.
Mengutip perkataan Jim Collins tersebut saya bertanya juga,
- Apakah pembukaan toko kedua Elna ini adalah sebuah hal yang tergesa-gesa?
- Apakah pembukaan toko kedua ini bisa menyebabkan turunnya penjualan di toko pertama?
- Apakah pemilik bisa mempertahankan kualitas karena sudah mempunyai dua toko?
- Apakah cost-benefit analisis untuk toko kedua itu sudah bagus?
Untuk menjawab pertanyaan diatas hanya pemilik lah yang tahu kebenarannya.
Tetapi setahu saya, ekspansi yang terlalu cepat bisa merugikan perusahaan, jika tidak diperhitungkan dengan baik dan seksama.
Merugikan bukan karena tidak bisa menjual produk dengan baik, merugikan karena manajemen belum siap mengatur sebuah perusahaan yang lebih besar, harus di evaluasi kemampuan manajemen internalnya lebih dahulu.
Intinya sukses atau gagalnya sebuah bisnis, biasanya sangat dipengaruhi oleh kemampuan “manajemen” dalam mengelola perusahaan.
Jika perusahaan semakin bertambah cabangnya atau ukurannya, sedangkan sistem manajemennya tidak di-upgrade atau ditingkatkan kemampuannya, maka perusahaan tersebut lambat laun bisa jatuh dan menurun kualitasnya.
Semoga bermanfaat.
referensi :
Jim Collins dan Morten Hansen. 2012. Great by Choice. Gramedia Pustaka Utama.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar